MATI SEBELUM KAMU DI MATIKAN
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
۩۞﷽۞۩
۞ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ ْعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ ۞
Teruntuk yang mengutif Ilmu dabawah ini
Nafa'anallahu Ta'ala bi'ilmihim wabarakallahu Lii Walakum Ajma'iin Bisirri Al-fatihah
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحمٰنِ الرَّحِيْم ۞ أَلحَمدُ لِلّه رَبِّ العَالَمِين ۞ ألرَّحمٰنِ الرَّحِيم ۞ مالِكِ يَوْمِ الدِين ۞ إيّاكَ نَعبُدُ وَ إيّاكَ نَستعِين ۞ إهدِنَا الصِّرَاط المُستَقِيم ۞ صِرَاطَ الَذِينَ أنعَمتَ عَليهم غَيْرِ المَغضُوبِ عَليْهِم وَلاَ الضَّالِّين ۞ أمِين.
SINGGAH SEJENAK TUMANINAH
FANA' : MATILAH SEBELUM ENGKAU MATI
Matilah sebelum engkau mati. Adalah sebuah pengertian dari salah satu jalan untuk musyahadah ( penyaksikan ) kepada Alloh, yaitu melalui mati. Tapi mati disini bukan matinya jasad ketika terpisah dengan roh, tapi matinya nafsu, sebagaimana sabda Nabi SAW ;
موتوا قبل ان تموتوا
Rasakanlah mati sebelum engkau mati.
Dalam kitab Al-Hikam, Abu Ma'jam berkata :
من لم يمت لم ير الحق
Barang siapa tidak merasakan mati, maka ia tidak dapat merasakan [melihat atau musyahadah] dengan Al-Haqqu Ta'ala.
Jadi yang dimaksud mati disini adalah hidupnya hati karena matinya nafsu. Dan hati [bashiroh] akan hidup pada saat matinya nafsu.
Imam Abul Abbas Al-Mursy dalam kitab Al-Hikam berkata :
لا يدخل على الله الا بابين : من باب الفناء الاكبر، وهو الموت الطبيعى ، ومن باب الفناء الذي تعنيه هذه الطائفة
Tiada jalan masuk / musyahadah dengan Alloh kecuali melalui dua pintu, dan salah satu dari dua pintu itu ialah pintu. Fana'ul akbar [yaitu mati thobi'i]. Dan merupakan setengah daripada pintu fana' menurut pengertian ahli Tashowwuf.
Adapun pengertian matinya nafsu untuk hidupnya hati dalam musyahadah dapat ditempuh pada 4 tingkat :
(1). MATI THOBI'I.
Menurut sebagian para ahli thoriqoh, bahwa mati thobi'i terjadi dengan karunia Alloh pada saat dzikir qolbi dan dzikir lathoif ( dzikir-dzikir ini biasanya sesuai anjuran Mursyid Thoriqoh ), serta mati Thobi'i ini merupakan pintu pertama musyahadah dengan Alloh. Pintu pertama ini dilalui pada saat seorang salik dalam melakukan dzikir qolbi dalam dzikir lathoif. Maka dengan karunia Alloh ia fana' atau lenyap pendengarannya secara lahir dimana telinga batin mendengar bunyi [Alloh..Alloh..Alloh..] Pada tingkat ini, dzikir qolbi mulanya hati berdzikir, kemudian dari hati naik kemulut dimana lidah berdzikir dengan sendirinya. Dan dalam kondisi seperti ini alam perasaan mulai hilang atau mati thobi'i. Pada saat-saat seperti ini akal pikiran mulai tidak berjalan lagi, melainkan terjadi sebagai ilham yang tiba-tiba Nur Ilahi terbit dalam hati muhadhoroh [berdialog] hati dengan Alloh, sehingga telinga bathin mendengar
انني انا الله
Sesungguhnya Aku ini adalah Alloh. yang bunyi ini naik kemulut dimana lidah bergerak sendiri mengucapkan [Alloh..Alloh..Alloh..] Dalam tingkatan-tingkatan bathin seperti ini, salik telah mulai memasuki pintu fana' pertama, yang dinamakan Fana' fil af'al dan Tajalli fil af'al dimana gerak dan diam adalah pada Alloh .
لا فاعل الا الله
Tiada fail [yang gerak dan diam] kecuali Alloh.
(2). MATI MAKNAWI.
Menurut sebagian ahli Thoriqoh, bahwa [Mati Maknawi] ini terjadi dengan karunia dari Alloh pada saat seseorang atau salik melakukan dzikir Lathifatur-Ruh dalam dzikir lathif. Terjadinya itu adalah sebagai ilham yang dimana secara tiba-tiba Nur Ilahiy terbit dalam hati. Ketika itu penglihatan secara lahir menjadi lenyap dan mata bathin menguasai penglihatan [Bashirohnya mendominasi penglihatan]. Dzikir [Alloh....Alloh..Alloh..] pada tingkat ini semakin meresap terus pada diri dimana dzikir mulai terasa panasnya disekujur tubuh dan disetiap bulu roma di badan. Dalam kondisi seperti ini, perasaan ke-insanan tercengang, bimbang, semua persendian gemetar, bisa juga terus pingsan. Sifat keinsanan lebur diliputi sifat Ketuhanan.
Dalam tingkat ini, salik telah memasuki fana' ke-dua yang dinamakan [Fana' fis Shifat / Tajalli fis sifat]. Sifat kebaharuan dan kekurangan serta alam perasaan lenyap atau fana' dan yang tinggal adalah sifat Tuhan yang sempurna dan azali.
قوله ، لا حيّ إلا الله
Tiada hidup selain Alloh.
(3). MATI SURI.
Pada tingkat selanjutnya adalah " Mati Suri ". Mati suri ini terjadi dengan karunia Alloh pada saat seseorang atau salik melakukan dzikir Lathifatus Sirri dalam dzikir lathoif. Pada tingkat ke-tiga ini, seseorang atau salik telah memasuki pintu Musyahadah dengan Alloh. Ketika itu segala ke-insanan lenyap atau fana', alam wujud yang gelap ( ظلمة ) telah ditelan oleh alam ghaib atau malakut ( عالم الملكوت ) yang penuh dengan Nur Cahaya. Dalam pada ini, yang Baqo' adalah Nurulloh semata, Nur Af'alulloh, Nur Shifatulloh, Nur Asmaulloh, Nur Dzatulloh atau Nurun 'ala Nuur.
Sebagaimana firman Alloh ;
....نور على نور يهدى الله لنوره من يشاء....
Cahaya di atas cahaya [berlapis-lapis], Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki. [ Suroh An-Nur, ayat 35 ]
لا محمود إلا الله
Tiada yang dipuji melainkan Alloh.
(4). MATI HISSI.
Selanjutnya ialah Mati Hissi. Mati Hissi ini terjadi dengan karunia Alloh pada saat seseorang atau salik melakukan dzikir Lathifatul Hafi dalam dzikir lathoif. Pada tingkat ke-empat ini, seseorang atau salik telah sampai ketingkat yang lebih tinggi untuk mencapai ma'rifah [Ma'rifat Billah] sebagai maqom tertinggi.
Dalam pada ini, lenyap [fana'] sudah segala sifat-sifat keinsanan yang baharu dan yang tinggal adalah sifat-sifat Tuhan yang qodim atau azali. Ketika itu menanjaklah bathin keinsanan lebur kedalam keBaqo'an Alloh Yang Qodim atau bersatunya 'Abid dan Ma'bud [yang menyembah dan Yang Di Sembah]. Dalam tingkat puncak tertinggi ini, seseorang atau salik telah mengalami keadaan yang tak pernah sama sekali dilihat oleh mata, didengar oleh telinga maupun tak sama sekalipun terbersit dalam hati sanubari manusia dan tidak mungkin dapat disifati. Tetapi akan mengerti sendiri bagi siapa saja yang telah merasakan sendiri, sebagaimana kata sufi agung Dzin Nun Al-Mishri ;
من لم يذق لم يعرف
Siapa saja yang tidak pernah merasakan maka tidak akan mengerti.
Untuk bisa mencapai keadaan Musyahadah seperti tersebut diatas [tahapan-tahapan diatas] adalah dengan jalan mujahadah, karena siapa saja yang menghiasi lahiriyahnya dengan mujahadah maka Alloh akan memperbaiki sirr atau hatinya dengan mujahadah.
Wallahu Ta'ala A'lamu Bimuradih
Washollallohu alaa Sayyidina Muhammad wa'alaa Alihi washohbihi wasallam
Billahitaufiq wal Hidayah Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Komentar
Posting Komentar